Siapakah Manusia
(Bagian I : Hakekat manusia)

man-question-mark-face-stock-crop

Nilai terbesar dalam kebudayaan manusia adalah manusia itu sendiri

Potensi terbesar dalam sejarah manusia adalah manusia itu sendiri

Masalah terbesar dalam hidup manusia adalah manusia itu sendiri

Bahaya terbesar dalam masyarakat adalah manusia itu sendiri

Manusia adalah sasaran kasih sekaligus sasaran kebencian manusia lain.

LALU SIAPAKAH MANUSIA ITU ?

Immanuel Kant, seorang filosof yang sangat terkenal, menulis kepada temannya.

Ia menanyakan 4 hal kepada temannya :
Siapakah manusia itu  (Who is the man?)
Apakah yang boleh diketahui oleh manusia (What can I know?)
Manusia harus berbuat apa (What should I do ?)
Apakah pengharapan manusia (What can I hope ?).

Meskipun  beliau adalah seorang filosof yang besar, akan tetapi masih mempertanyakan sebenarnya siapakah manusia itu.Pertanyaan ini kedengarannya aneh, akan tetapi kenyataannya pertanyaan semacam ini akan muncul dalam diri manusia, termasuk kita.

Kita tidak akan puas kalau jawabannya sederhana, bhw manusia adalah mahluk biologis yang bisa melahirkan, bisa makan minum, kawin dan dikawinkan, serta  bisa mati. Jawaban semacam ini akan menimbulkan pertanyaan lagi. Kalau begitu apakah bedanya manusia dan binatang. Memang pertanyaan yang sulit dijawab itu harus dikembalikan kepada Tuhan, yang menciptakan manusia, supaya Allah sendiri yang memberi jawab melalui FirmanNya. Dengan demikian kita akan memperoleh jawaban yang memuaskan.

MANUSIA MENURUT ALKITAB

Berfirmanlah Allah : “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Kej. 1 : 26a). Manusia diciptakan Allah karena Allah adalah kasih. Pribadi Allah yang Maha kasih harus punya  obyek yang dikasihi yakni manusia, buah ciptaanNya.

Manusia diciptakan oleh Tuhan, setelah Tuhan menciptakan semesta alam dan bumi dengan segala isinya. Pada waktu Tuhan menciptakan dunia dengan segala isinya, cukup dengan satu ungkapan “berfirmanlah Allah,“  maka semuanya ada. Akan tetapi ketika Allah akan menciptakan manusia, maka Alkitab mengatakan : “ Baiklah Kita menjadikan manusia …..” kata Kita berarti ada bentuk jamak.

Ada beberapa pendapat tentang hal itu :

  • Kebiasaan orang Timur Tengah 1500 s.M, kalau menyebut dewa/ilah selalu dalam bentuk jamak, meskipun yang disebutkan hanya satu dewa, karena manusia ingin mengagungkan dewanya,bahwa dewa lebih daripada manusia. Pandangan semacam ini harus kita tolak. Kita tidak boleh menyebut nama Allah menurut cara kita, melainkan menurut cara Tuhan yang menyatakan diri kepada manusia melalui firmanNya.
  • Pandangan ke-2 adalah Allah berbicara dengan para malekatNya sebelum menciptakan manusia. Pandangan semacam ini juga harus kita tolak, karena malekat adalah ciptaan Allah. Dalam Iberani 1 : 14 dikatakan malekat Tuhan adalah roh roh yang melayani Allah yang diutus Allah untuk melayani manusia yang akan diselamatkan. Malekat tidak setara dengan Allah.

Lalu siapakah Kita disini ? Kita disini adalah Allah Tri Tunggal, Allah yang Esa didalam diri Allah Bapa, Allah Putera dan Roh Kudus.

Ke-3 Oknum Allah itu setara (sederajad dan mempunya zat yang sama) berdialog merencanakan untuk menciptakan mahluk yang paling agung, yakni manusia, yang kelak akan diberi tugas untuk mengelola bumi dengan segala isinya..

Ke-3 Oknum Allah itu yang akan berperan terus menerus sepanjang abad didalam memelihara, menegor, menasehati dan menyelamatkan manusia, bahkan pada akhirnya Putra Allah sendiri diutus kedalam dunia untuk menebus dosa manusia dan Roh Kudus berkarya membaharui manusia, supaya manusia bisa kembali hidup segambar dan serupa dengan Allah.

Didalam Kej.1 : 26 dikatakan: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita. Apa arti gambar dan rupa  Allah disini ?

Kata gambar ( bhs Inggris image) dan rupa (bhs Inggris likeness), tidak perlu kita bayangkan rupa Allah mirip manusia dengan ukuran raksana, atau menyerupai orang tua yang berjenggot putih.

Allah adalah roh adanya, tidak bisa digambarkan seperti sesosok manusia.

Didalam Kel.20:4-5 Tuhan mengingatkan “ Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada dilangit diatas, atau yang ada dibumi dibawah atau yang dibawah air dibawah bumi …. Dan jangan  sujud menyembah kepadanya”. Lalu apa artinya manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Artinya Allah menciptakan manusia dalam wujud yang kelihatan dan manusia mempunyai sifat sifat seperti Allah ( kasih, adil, benar,baik hati, pengampun etc), bisa berbuat yang baik dan benar seperti Allah, serta bisa membuat rencana rencana yang baik, jauh depan seperti Allah.

Manusia bisa meneladan Allah karena memiliki sifat sifat Allah, memiliki pikiran pikiran dan kehendak Allah didalam dirinya.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi ?

Dalam Kej.2:7 “Setelah manusia terbentuk dari debu tanah, Tuhan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya, demikian manusia itu menjadi mahluk hidup”.

Nafas yang hidup adalah nafesy atau ruakkh (Iberani), adalah roh atau nyawa, yang tinggal didalam tubuh manusia dan apabila meninggalkan tubuh,  maka manusia akan mati dan kembali kepada tanah.

Dengan roh yang ada didalam manusia, maka manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, bisa mengerti kehendak Allah, mana yang jahat dan mana yang baik yang berkenan kepada Allah dan manusia dituntut untuk hidup serupa dengan Dia, meneladan Dia.

Inilah kelebihan manusia daripada binatang, manusia bisa mengenal khalikNya, bisa mengenal kehendakNya bahkan bisa hidup serupa dengan Dia, apabila manusia hidup akrab dengan Dia.

oleh : Budi Pranoto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>