Bahan PA tanggal 26-31 Januari 2015
MENGHIDUPI PANGGILAN ALLAH DENGAN BENAR

Minggu IV Januari 2015 – Lentera Umat

 MENGHIDUPI PANGGILAN ALLAH DENGAN BENAR

Bacaan  Alkitab  : 1 Korintus 7:17-24.
Tujuan 
:  Peserta memahami bahwa panggilan Allah membawanya kepada kebebasan hidup yang benar.

PENGANTAR

Di dalam lingkungan kekristenan dapat kita saksikan  adanya kecenderungan dari orang-orang Kristen yang mengalami pengalaman spiritual tertentu, melepaskan atau meninggalkan pekerjaan atau profesinya, seperti pengusaha, artis, atau profesional. Mereka kemudian mengikuti kursus-kursus Alkitab, seminar-seminar, bahkan masuk sekolah teologi, dan menjadi pengkhotbah, atau pendeta free-lance yang tidak mempunyai, atau terikat pada, jemaat tertentu. Penyanyi Kristen berhenti menyanyikan nyanyian-nyanyian sekuler, dan hanya menyanyikan lagu-lagu rohani dalam kebaktian di gereja. Mereka merasa bahwa hanya dengan begitu mereka dapat lebih melayani dan memuliakan Tuhan. Lebih luas lagi, ada majikan-majikan Kristen yang hanya mau menerima pegawai Kristen, setidak-tidaknya mayoritas pegawainya Kristen; Ada juga pasangan-pasangan Kristen yang “giat” (kalau bukannya “memaksa”) pasangannya, atau anggota keluarganya yang bukan-Kristen, untuk menjadi Kristen.

Gejala ini, oleh jemaat disambut dengan positif, yang dinampakkan dengan mengundang mereka  untuk berkhotbah, bersaksi dalam kebaktian-kebaktian, entah Kebaktian Kebangunan Rohani, Pembangunan Iman, bahkan kadangkala kebaktian umum pada hari Minggu. Yang tidak dipertanyakan oleh jemaat pada umumnya adalah, “benarkah bahwa kita dapat melayani dan memuliakan Tuhan hanya dalam kegiatan-kegiatan yang berbau rohani? Benarkah, dalam aktivitas sekuler kita tidak dapat melayani dan memuliakan Tuhan? Benarkah, bila ada anggota keluarga yang belum Kristen berarti keluarga itu tidak menjadi kesaksian yang baik, dan kurang diberkati Tuhan?” Pertanyaan-pertanyaan ini justru merupakan sesuatu yang mendasar, dan pertanyaan inilah yang juga dihadapi oleh Rasul Paulus.  Rasul Paulus menjawabnya dalam 1 Korintus 7:1-40. Fakta bahwa seseorang menjadi Kristen tidak mengubah statusnya dalam masyarakat. Tuhan dapat memakai pengikut-pengikut-Nya, dalam  bidang kehidupan apa pun. Nasihat Paulus ini bukan hanya untuk jemaat Korintus, melainkan untuk seluruh jemaat, juga untuk kita sekarang ini.

PENJELASAN

Teks kita, 1 Korintus 7:17-24, harus kita lihat dari konteks keseluruhan pasal 7. Setelah Rasul Paulus membahas perihal ketidak-tertiban yang terjadi di tengah-tengah jemaat Korintus, sekarang ia membahas beberapa pertanyaan yang diajukan oleh jemaat, antara lain mengenai pernikahan dengan segala aspeknya. LAI membagi 1 Korintus 7:1-40 menjadi 2 (dua) bagian :

Bagian pertama, ayat 1-16, berbicara mengenai mereka-mereka yang telah menikah. Dalam bagian kedua (ayat 17-40), Rasul Paulus menjelaskan bahwa karena seseorang menjadi Kristen, tidak berarti ia harus mengadakan perubahan besar-besaran dalam setiap aspek kehidupan lahiriahnya.

Intisari permasalahan yang dihadapi oleh jemaat Korintus adalah, “ketika seseorang menjadi Kristen, apakah ia harus mengadakan perubahan besar-besaran dan radikal dalam seluruh aspek kehidupannya?” Misalnya, apakah orang Kristen harus tidak menikah? (ayat 1, 7-8, 27). Bila sudah menikah, apakah ia harus menceraikan pasangan hidupnya yang tidak bersedia menganut iman Kristen? (ayat 10-16). Apabila ia adalah seorang Yahudi, apakah ia harus meniadakan tanda sunatnya (ayat 18-20). Sebagai budak Kristen, apakah ia harus memperjuangkan kebebasannya untuk menjadi orang merdeka? (ayat 21-22). Jawaban Rasul Paulus atas pertanyaan tersebut terdapat dalam ayat 17, “Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat”. Jawaban mana diulangi lagi dalam ayat 20, 24 (bandingkan ayat 26).

Pertanyaan jemaat Korintus dan jawaban Rasul Paulus harus dilihat dari sudut pandang kota Korintus yang “bebas” dalam hal moralitas. Dari ayat 14 tampak bahwa pada masa itu ada ketakutan apabila orang Kristen, setelah mengikut Kristus terus bersekutu dengan non-Kristen, maka si Kristen akan menjadi najis. Dari jawabannya, Rasul Paulus mengatakan bahwa yang sebaliknya justru dapat terjadi: Orang Kristen dapat membawa dampak positif (ayat 14, 16). Masalahnya tidak terletak pada menikah atau tidak menikah, atau bahwa pasangan hidup yang non-Kristen “harus”, atau “diarahkan” untuk menjadi Kristen, melainkan bagaimana sikap dan perilaku si Kristen di tengah-tengah situasi dan keadaan hidupnya. Itulah yang menentukan.

Ayat 17-19: Kristus membawa perubahan dalam hidup seseorang, dalam perilaku, sikap (band. 2 Korintus 5:17). Namun, itu tidak berarti bahwa orang percaya harus mengubah aspek jasmaniah/ lahiriah kehidupannya. Misalnya, ia tidak harus mengganti pasangan hidupnya, “menggiring” atau “memaksa” anggota keluarganya untuk menjadi Kristen. Bahkan, ia juga tidak perlu mengubah pekerjaannya (kecuali pekerjaannya itu tidak memuliakan Tuhan). Sebaliknya, hendaklah ia tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah (ay.17).

Dalam perikop kita, Rasul Paulus memberikan 2 contoh, yaitu masalah sunat dan perbudakan. Kata “dipanggil” dalam ayat 17-24 tidak menunjuk pada kedudukan dan fungsi orang Kristen dalam masyarakat, melainkan pada panggilan Allah dalam Kristus kepada orang berdosa.

Sunat merupakan suatu upacara yang penting bagi orang Yahudi, karena sunat terkait dengan hubungan mereka dengan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, sunat merupakan perintah Tuhan, sebagai tanda bahwa yang bersangkutan adalah pengikut Tuhan, dan masuk dalam ikatan perjanjian dengan Allah (Kejadian 17:9-14). Tetapi, kedatangan Kristus telah mengubahnya. Sunat tidak lagi diperlukan (Kisah 15:1-21; Roma 4:9-11; Galatia 5:2-4; Kolose 2:11). Namun, bagi beberapa orang-orang Kristen Yahudi, sunat masih penting bagi mereka. Apabila orang-orang non-Yahudi mau menjadi Kristen, menurut mereka, orang-orang itu harus disunat.

Rasul Paulus menunjukkan bahwa dalam Kerajaan Allah, sunat atau tidak disunat itu tidak penting, yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah (ay.19). Artinya, orang-orang Kristen Yahudi tidak perlu berusaha menghilangkan tanda sunat, dan orang-orang non-Yahudi yang jadi Kristen tidak perlu disunat (Roma 2:25,29; Galatia 5:6). Perubahan-perubahan lahiriah itu tidak penting. Perubahan batiniah itulah yang penting. Mereka harus memusatkan perhatian kepada menaati hukum-hukum Allah, rindu untuk menyelaraskan hati dan kehendak dengan kehendak Kristus, menjalankan kehidupan selaras dengan pengajaran Kristus.

Demikian pula halnya dengan masalah budak dan orang merdeka (ayat 21-23). Perbudakan adalah hal biasa dalam Kerajaan Romawi. Dalam abad-abad pertama, ada banyak budak-budak menjadi Kristen, juga di tengah-tengah jemaat Korintus. Rasul Paulus mengingatkan bahwa meskipun seorang budak telah menjadi Kristen, ia tetap budak orang lain, walaupun sudah dimerdekakan dari perbudakan dosa dalam hidupnya (Roma 6:18,22). Sebaliknya, orang-orang yang merdeka ketika Tuhan memanggil mereka, sekarang mereka adalah budak Kristus yang telah menebus mereka dengan harga yang mahal, yaitu darah-Nya yang kudus (ayat 23; 1 Korintus 6:20; Roma 5:9; 2 Korintus 5:21).

Karena Kristus telah menebus mereka dengan harga yang amat mahal, maka Ia punya wibawa dan kuasa atas diri mereka. Hidup orang percaya berada di bawah kendali Kristus, dan apa pun yang diperbuat, bagi orang percaya –budak atau merdeka– adalah untuk Kerajaan Allah, dan untuk kemuliaan Kristus. Oleh karena orang percaya adalah hamba-hamba Allah, maka mereka tidak boleh diperbudak oleh dunia. Mereka hidup dalam dunia, tetapi bukan dari dunia.

Kita dapat bersaksi bagi Kristus dalam keadaan apa pun, di mana saja, apa pun pekerjaan kita. Kadangkala kita terlalu memikirkan apa yang harus dilakukan untuk Tuhan di tempat lain, dan kita kehilangan kesempatan berbuat sesuatu untuk Tuhan di tempat di mana kita sekarang berada. Ketika seseorang menjadi Kristen, biarlah ia tetap melanjutkan pekerjaan yang dahulunya ia lakukan, kecuali pekerjaan itu adalah pekerjaan yang amoral dan tidak etis.

Setiap pekerjaan dapat menjadi pekerjaan untuk Tuhan, bila kita menyadari bahwa tujuan hidup kita adalah menghormati dan memuliakan Tuhan, melayani dan bersaksi bagi Kristus. Karena Allah yang menempatkan kita di mana kita sekarang berada, maka perhatikan kesempatan-kesempatan yang ada untuk melayani dan bersaksi bagi Kristus. Jadi, tidak ada pekerjaan yang “rohani” atau “sekuler” di mata Tuhan. Sebagai orang Kristen, kita melakukan pekerjaan kita – apa pun pekerjaan itu -  dengan motif, tujuan dan standar yang baru: untuk memuliakan Tuhan. Juga dengan komitmen yang baru: melaksanakan tugas dan tanggungjawab kita dengan lebih baik, lebih bertanggungjawab, penuh kasih.

Kita cenderung beranggapan bahwa suatu perubahan dalam lingkungan selalu merupakan jawaban atas suatu masalah. Padahal, masalah itu biasanya ada di dalam kita, bukan di sekitar kita. Inti setiap masalah sebenarnya adalah masalah di dalam hati. Seringkali terjadi, ketika seseorang menjadi Kristen, ia ingin melepaskan diri dari pekerjaannya, pindah keluar dari lingkungannya, dan memulai suatu hidup baru. Hidup baru dalam Kristus itu tidak berarti membuang hidup kita yang lama, dan menerima hidup yang sama sekali baru; tetapi berarti, hidup yang lama dijadikan baru. Dengan demikian, yang Yahudi tetaplah jadi Yahudi, yang non-Yahudi tetap non-Yahudi. Etnisitas dan tanda-tandanya bukan masalah. Yang membedakan adalah macam hidup yang dijalani.

Pada masa kini, gereja makin dipenuhi orang-orang Kristen yang berbakti. Jumah anggota gereja makin bertambah. Meskipun demikian,  gereja Kristen modern telah kehilangan dampaknya atas dunia. Mengapa? Karena anggota-anggotanya berada di tempat yang tidak semestinya. Ada banyak dokter, ahli hukum, pendidik, artis, pengusaha Kristen, akan tetapi mereka tidak berada di tempat di mana mereka seharusnya berada dan menjadi saksi di sana.

PERSEKUTUAN DOA PEMBANGUNAN SPIRITUALITAS JEMAAT

Mengharap kehadiran segenap fungsionaris & aktivis GKI Sangkrah dalam Persekutuan Doa Pembangunan Jemaat, yang akan kami selenggarakan pada :
Hari, tanggal    :    Kamis, 5 Pebruari 2015
P u k u l    :    18.00 WIB
T e m p a t    :    Gedung Timur, Lantai 3 Ruang Musa
Pembawa Renungan    :    Pdt. Lanny S. Mariani
T e m a    :    “JANGAN SAKIT HATINYA”

PERSEKUTUAN PENGAKRABAN GKI SANGKRAH

Persekutuan Pengakraban akan diadakan pada :
Hari, tanggal    :    Kamis, 12 Pebruari 2015
P u k u l    :    17.30 WIB
T e m p a t    :    GKI Sangkrah (Cafetaria)
Pembawa Renungan    :    Sdr. Samuel Ismayanto

KOMISI OLAHRAGA

Salam olah raga…. Ada Badmiton buat jemaat GKI Sangkrah lho… Kita adakan :
Hari, tanggal    :    Setiap Minggu
P u k u l    :    14.00 – 18.30 WIB
T e m p a t    :    Gor SMA Warga (Jl. Mongisidi 21 Solo)
Kepada jemaat dipersilahkan untuk langsung gabung dengan kami,
untuk keterangan yang lebih jelas dapat menghubungi Bp. Happy.

KOMISI PEMUDA

Shallom sahabat muda.. Yuk bersama-sama kita datang di Persekutuan Kompags. Mari kita bersama-sama bersekutu dan mendengar Firman Tuhan dengan tema
“Bisakah Mengetahui Kehendak Allah?”
Sabtu, 31 Januari 2015, Pukul 18.00 WIB
di Ruang Musa, Gedung Timur Lantai 3
Dipimpin oleh Pdt. Lanny S. Mariani