Bahan PA tanggal 29 September-4 Oktober 2014

DOA SYAFAAT

Bacaan Alkitab : Kejadian 18 : 16-33

Tujuan :

Peserta menghayati makna doa syafaat, dan bersedia menerapkannya dalam kehidupan kesehariannya.

PENGANTAR

Doa syafaat adalah bagian yang penting dalam ibadah Minggu. Agaknya setiap orang Kristen akan sependapat mengenai hal ini. Namun, dalam praktiknya bagian yang penting ini sering dirasakan kurang penting. Setidaknya ini tampak dari sikap-sikap yang menyertainya. Ada yang merasa doa syafaat membosankan. Ada yang merasa doa syafaat seperti pengumuma, apalagi jika pemimpin ibadah menyebutkan satu persatu nama anggota jemaat yang sakit dalam doa syafaat tersebut. Yang lain malah lupa akan apa yang telah diucapkan pemimpin ibadah dalam doa syafaat tersebut. Bahkan, ada yang mengaku ketiduran saat doa syafaat. Ironis, bukan?

Doa syafaat, atau intercession dalam bahasa Inggris, berasal dari dua kata dalam bahasa Latin, yaitu inter- yang artinya “di antara,terlibat, turut campur”- dan cedere – yang artinya “pergi, menyerahkan, bergerak, atau membayar harga.” Kalau kita memahami makna intercession ini, dengan segera kita akan menghubungkannya dengan Kristus. Benar. Kristus adalah Perantara kita. Ia telah mengambil tempat di antara kita dan Allah. Ia telah membayar harga dengan darah-Nya sendiri. Ia pergi, bergerak menyerahkan diri untuk terlibat dalam penderitaan manusia. Maka, setiap kali mengambil peran sebagai pendoa syafaat, kita sedang melakukan karya Kristus. Siapakah kita, sehingga Ia berkenan mengundang kita melakukan karya-Nya? Betapa istimewanya kita, jika kita juga dipercaya untuk menjadi perantara antara manusia dan dunia ini dengan Allah, di dalam karya penebusan Kristus.

Bahan pemahaman Alkitab itu berusaha menolong kita menghayati makna doa syafaat. Tidak hanya itu. Kita berupaya untuk menjadikan doa syafaat sebagai panggilan hidup kita. Sebagaimana ibadah tidak hanya berhenti dalam ruangan kebaktian, demikian pula doa syafaat : akan kita bawa kepada dunia di mana kita hidup, lewat keseharian kita.

PENJELASAN

Kejadian 18 : 16-33 memberikan contoh kepada kita, tentang bagaimana seseorang melakukan peran sebagai pendoa syafaat. Meskipun dalam teks Alkitab ini kita tidak menemukan kata “doa syafaat,” tetapi peran yang dilakukan oleh tokoh dalam kitab ini sangat jelas. Ya, sebagaimana judul yang diberikan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, bagian ini menjelaskan kepada kita mengenai doa syafaat Abraham untuk Sodom. Apa yang dapat kita pelajari dari doa syafaat Abraham ini?

Pertama, kata doa syafaat, yang berarti “menjadi perantara”, mengandaikan kita berdiri di antara dua pihak yang sedang bermusuhan dalam perang. Pada saat itulah kita sedang menjadi perantara yang mendamaikan kedua pihak pihak. Apakah peran ini yang sedang dilakukan Abraham? Tampaknya demikian.

Allah murka kepada penduduk kota Sodom yang telah melakukan banyak dosa. Oleh karena itu, Ia bermaksud menghukum mereka. Sementara itu, di pihak lain, penduduk kota Sodom mungkin sebenarnya tidak peduli kepada Allah. Itulah sebabnya, mereka melakukan dosa tiada henti. Dua belah pihak ini bagaikan musuh yang berada di medan perang. Peran pendoa syafaat adalah mendamaikan dua pihak. Abraham memohon belas kasihan Allah, agar Ia membatalkan hukuman-Nya.

Kedua, doa syafaat juga bermakna menyerahkan diri untuk berada di antara mereka yang lemah dan membutuhkan bantuan. Abraham memang tidak sedang berada di kota Sodom saat itu. Tetapi, caranya memohon menunjukkan empatinya yang dalam kepada orang-orang benar, yang sekiranya ada kota itu. Berulang kali Abraham mengatakan tentang orang-orang benar ini. Bukankah mereka orang yang lemah, yang membutuhkan bantuan? Artinya, demi orang lemah ini, Abraham bersedia menyerahkan dirinya memohon belas kasihan Alla – Meski tidak disebutkan, berapa banyak sebenarnya orang-orang benar yang ada di kota ini. Atau, betulkah masih ada orang-orang benar di sana? Agaknya, bagi Abraham ini tidak penting. Yang mendesak baginya adalah berdoa bagi mereka yang lemah, yang sedang berhadapan dengan murka Allah.

Ada yang menarik dari sosok Abraham di sini. Perhatikan, bagaimana Allah mempelakukan Abraham seperti seorang sahabat. Ayat 17 mengungkapkan secara menyentuh mengenai hal ini. “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?” Seolah-olah Tuhan, tidak-bisa-tidak, harus memberitahukan rencana-Nya kepada Abraham. Apalagi, dalam percakapan selanjutnya Allah seolah-olah memberikan ruang invertensi bagi Abraham dalam hal keputusan Allah ini. Sangat menarik. Siapa Abraham dan siapa Allah? Bukankah Allah tidak berkewajiban memberitahukan rencana-Nya, termasuk Abraham? Benar. Perkataan Yesus kemudian dapat menjelaskan soal ini. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yohanes 15:15). Menjadi sahabat Allah adalah anugerah. “Bukan kamu yang memiliih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…” (Yohanes 15:16). Namun, di samping itu, komitmen adalah kunci dalam persahabatan: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:14).

Abraham patut dipandang sebagai sahabat Allah. Karena, seperti Kristus, ia tidak mementingkan diri-Nya. Sebenarnya ia punya alasan untuk itu. Bukankah Sodom adalah tempat yang dipilih oleh Lot sendiri sebagai tempat kediamannya? Dalam Kejadian 13:10-13 terkesan Lot mengambil kesempatan, dan kurang menunjukkan hormat yang sepatutnya sebagai orang muda, yang diangkat dan dipelihara oleh Abraham, layaknya anaknya sendiri. Lot memilih tempat kediaman menurut apa yang dipandangnya baik. Tidak tampak bahwa ia mempertimbangkan kepentingan Abraham, pamannya. Apa pun itu, bagi Abraham tidak penting. Ia menaruh kepentingan Lot, bahkan seluruh penduduk kota Sodom yang tidak dikenalnya itu, dalam doa syafaatnya. Ia tidak mendapat keuntungan apa-apa dengan mendoakan mereka. Atau, cukuplah ia mendoakan Lot dan keluarganya, karena mereka memiliki hubungan darah dengannnya. Selebihnya, mengapa ia perlu mendoakan seluruh penduduk kota Sodom?

Abraham memiliki hati seperti Kristus. Saat Yesus menangisi Yerusalem, Yesus tahu persis bahwa kota itu penuh dengan kejahatan, bahkan terhadap diri-Nya. Di kota itu memang ada orang-orang benar, tetapi Yesus tidak hanya berdoa bagi orang-orang benar. Ia berdoa bagi seluruh penduduk Yerusalem. Yesus tidak hanya berdoa syafaat bagi mereka. Sesungguhnya seluruh hidup Kristus adalah doa syafaat itu, karena hidup-Nya adalah pemberian diri total sampai habis.

 

Diambil dari Lentera Umat Minggu Kelima September 2014

PERSEKUTUAN PENGAKRABAN GKI SANGKRAH

Hari, tanggal               :   Kamis, 9 Oktober 2014
P u k u l                        :   17.30 WIB
T e m p a t                   :   GKI Sangkrah (Gedung Lama)
Pembawa Renungan:    Pdt. Lanny S. Mariani

PERSEKUTUAN DOA PEMBANGUNAN SPIRITUALITAS JEMAAT

Mengharap kehadiran segenap fungsionaris & aktivis GKI Sangkrah dalam Persekutuan Doa Pembangunan Jemaat, yang akan kami selenggarakan pada :

Hari, tanggal               :   Kamis, 2 Oktober 2014
P u k u l                       :   18.00 WIB
T e m p a t                  :   Gedung Timur, Lantai 3 Ruang Musa
Pembawa Renungan  :   Pdt. Lukman Halim
T e m a                       :   Menjadi Gereja yang Memberdayakan Kaum Perempuan & Pemudanya

KOMISI PEMUDA

Hi Guys!! Please come ‘n jois with us in
Youth Gathering & Refreshing 2014 Komisi Pemuda GKI Sangkrah (KOMPAGS) :
“Menikmati Alam, Menikmati Persahabatan”
Minggu, 5 Oktober 2014

Pukul 08.30 WIB (dari GKI Sangkrah)
di Air Terjun Parang Ijo & Ndoro Dongker
Free Guys!!
Ayo segera daftarkan diri kalian!

CP :Yanu – 085728080474 & Maria – 085728697929

KOMISI REMAJA

Tanda keluarga biasa yang menjadi luar biasa adalah menjadi keluarga yang mengasihi Allah dan sesama, sehingga menjadi keluarga yang mencerminkan kasih Allah.Bagaimana dengan keluarga kita??Sudahkah keluarga kita mencerminkan kasih Allah?? Mari datang di Persekutuan JAGERKISS :

“Keluarga Yang Biasa Menjadi Luar Biasa : Keluarga Yang Mengasihi”
Minggu, 5 Oktober 2014

Pukul 09.00 WIB
Ruang Musa, Gedung Timur Lantai 3
Dipimpin oleh Pdt. Lukman Halim