Bahan PA 25-30 Agustus 2014
TATKALA BENCANA MENYAPA

BACAAN ALKITAB : LUKAS 13: 1-5

TUJUAN :

  1. Peserta memiliki sudut pandang yang benar terhadap bencana yang menyapa kehidupan manusia.
  2. Peserta menggunakan sudut pandang yang benar terhadap bencana, dalam menolong orang lain yang tengah menghadapi bencana.

 

PENGANTAR

Bencana menyebabkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Bencana ini dapat bersumber pada kesalahan diri sendiri, orang lain, atau dari alam ini. Ketika bencana terjadi, seringkali orang bertanya, “Mengapa hal ini terjadi?” bahkan, tidak sedikit pula yang mengungkapkan, ”Apa salah dan dosa saya, sehingga hal yang buruk ini menimpa keluarga saya?” Pada umumnya, ketika terjadi bencana alam yang membawa korban jiwa yang banyak, lagu-lagu yang kemudian muncul di televisi membawa ajakan untuk bertobat. Bencana alam itu seringkali dimaknai sebagai akibat dari salah dan dosa manusia di hadapan Tuhan. Dalam kenyataan sehari-hari, bencana seringkali dimaknai tunggal, sebagai hukuman Tuhan karena dosa dan kesalahan manusia. Apakah benar seperti ini yang diajarkan oleh firman Tuhan? Bahan Pemahaman Alkitab kali ini mencoba menjawab pertanyaan: apakah bencana, baik yang bersumber dari orang lain atau alam, selalu merupakan bentuk hukuman Tuhan atas dosa dan kesalahan manusia? Melalui bahan ini, peserta menengok ulang pemahaman tentang bencana.

PENJELASAN

Lukas 13: 1-5 berbicara tentang dua bencana yang bersumber pada dua hal yang berbeda. Bencana pertama adalah penumpahan darah akibat kebengisan Pilatus, sementara bencana yang kedua terjadi akibat runtuhnya menara di dekat Siloam. Kita akan membahas dua kasus ini untuk mendapatkan perpektif Yesus tentang kaitan antara bencana dan keberdosaan manusia. Berbekal pada teks ini pulalah, kita akan mencoba memahami bencana yang bersumber pada alam ini.

Bencana Akibat Kejahatan Pilatus

Ada dua bencana yang disebut dalam bagian ini. Pertama, bencana yang menimpa sejumlah orang-orang Galilea yang dibunuh atas perintah Pilatus. Kabar tentang bencana ini dibawa oleh para murid kepada Yesus Kristus. Kedua, bencana yang menimpa delapan belas orang akibat runtuhnya menara dekat dengan Siloam. Kedua bencana ini, walaupun berbeda sumbernya, tetapi membawa korban jiwa. Keberadaan bencana yang membawa korban jiwa inilah, khususnya bencana yang pertama, menimbulkan tanya bagi para murid.

Ketika para murid datang kepada Yesus dan mengisahkan bencana akibat kebengisan Pilatus, Yesus segera memberikan pertanyaan retorik, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lain, karena mereka mengalami nasib itu?” Yesus menegaskan jawabannya dengan mengatakan: “tidak!” Dari pertanyaan retorik dan jawaban yang diberikan Yesus ini, kita dapat menduga bahwa para murid itu kemungkinan mempunyai pandangan bahwa orang-orang yang mengalami bencana akibat kejahatan orang lain adalah mereka yang mempunyai dosa yang besar, atau setidaknya lebih besar dari rata-rata dosa orang lain. Dengan kata lain, dalam pemahaman murid-murid ini, orang-orang yang lepas dari bencana akibat kejahatan orang lain adalah orang-orang yang lebih baik, atau setidaknya dosanya lebih sedikit daripada yang menjadi korban. Yesus ingin mengoreksi pemahaman para murid ini. Bagi Yesus, tidak ada korelasi langsung antara tingkat keberdosaan seseorang dengan bencana akibat kejahatan orang lain.

Bencana Akibat Kerusuhan Menara

Yesus tampaknya tidak merasa cukup menegaskan tidak adanya korelasi langsung antara tingkat keberdosaan seseorang dengan bencana yang menimpa. Kali ini, Yesus yang memakai peristiwa yang pernah terjadi pada masa itu, yakni rubuhnya menara dekat Siloam – yang memakan korban delapan belas orang – sebagai penegasan bahwa tidak selalu ada korelasi antara tingkat keberdosaan seseorang dan bencana yang menimpanya. Lewat pertanyaan retorik, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lain, karena mereka mengalami nasib itu?”, Yesus ingin menegaskan bahwa jawabnya adalah tidak! Tidak selalu ada korelasi antara keberdosaan seseorang dengan bencana bencana yang terjadi: Baik itu bencana yang bersumber pada kesalahan orang lain atau peristiwa naas seperti rubuhnya menara ini. Yesus ingin menegaskan bahwa mereka yang menjadi korban bencana bukanlah orang-orang yang dosanya lebih banyak daripada mereka yang selamat. Mereka yang tidak menjadi korban bencana bukanlah orang-orang suci yang tak berdosa, atau yang dosanya lebih sedikit.

Mengapa Bencana Menimpa Orang-orang Tertentu?

Percakapan Yesus dengan para murid berakhir dengan kesimpulan bahwa tidak ada korelasi langsung antara tingkat keberdosaan seseorang dengan bencana yang terjadi padanya. Lalu, mengapa bencana sebagian orang? Teks bacaan kita tidak memberikan jawaban lebih lanjut tentang hal ini. Inilah satu misteri kehidupan yang tak terselami. Jawaban Yesus di ayat 3 dan 5, “Tidak! Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian”, adalah penegasan : jika orang Israel terus menerus mengeraskan hati kepada peringatan Tuhan, dan tidak mau bertobat, mereka akan mengalami kebinasaan. Beberapa penafsir Alkitab mengartikan kebinasaan di bagian ini sebagai kehancuran Yerusalem yang terjadi pada tahun 70 M. Rangkaian percakapan Yesus dan para murid mengajak kita, tidak untuk merasa lebih baik, atau bahkan menjadi hakim atas orang lain, ketika bencana menerpa, tetapi untuk terus memeriksa diri kita sendiri; Tidak menunjuk orang lain, tetapi memeriksa hati dan pikiran sendiri.

Bagaimana dengan bencana alam?

Bencana yang bersumber pada alam bisa mempunyai banyak penyebab. Pertama, kegagalan manusia untuk memelihara bumi ini. Jika hutan ditebang habis, maka erosi dan banjir adalah konsekuensi yang terjadi. Sayangnya, konsekuensi ini tidak selalu menimpa pelaku kejahatan terhadap alam itu sendiri. Perusakan dan konsekuensinya bisa juga tidak terjadi pada generasi yang sama. Kedua, perubahan kondisi terkait dengan dinamika alam yang terjadi akibat pergeseran lempeng bumi, misalnya. Ketiga, dalam catatan Alkibat memang ada kisah tentang bagaimana Tuhan “mengirimkan” bencana dalam rangka menyatakan kekuatan dan kehendak-Nya, seperti dalam kisah sepuluh tulah di Mesir. Nah, masalahnya, seringkali tanpa data yang akurat dan memadai, manusia cenderung menjatuhkan penghakiman kepada korban bencana alam. Dengan memberikan stigma berdosa terhadap korban bencana alam, pada saat yang bersamaan pemberi stigma itu merasa lebih baik, atau setidaknya lebih sedikit dosanya dari korban. Dari dua kisah bencana yang telah diuraikan di atas, kita memahami bahwa Yesus menolak ada korelasi langsung antara dosa dan bencana.

Kita seringkali tak dapat sepenuhnya mengerti mengapa bencana alam menimpa daerah tertentu. Tugas kita di tengah ketidakmengertian itu bukanlah untuk mneghakimi, tetapi mengulurkan kasih dan bantuan secara nyata.

 

 

Diambil dari Lentera Umat, Minggu Keempat Agustus 2014.

PERSEKUTUAN PASUTRI

Hari, tanggal    :    Jumat, 12 September 2014
Waktu    :    18.30 pm
Tempat    :    Ruang Musa, lantai 3 Gedung Timur GKI Sangkrah Solo.
Tema    :    Pentingnya pengetahuan tentang “seks” di keluarga, anak dan remaja
Pembicara    :    Ibu Maria Herlina Limyati
NB : diharapkan kehadiran bapak ibu, terbuka untuk umum, dimohon RSVP karena untuk mengatur tempat dan konsumsi. RSVP via sms Ibu Rosita R Sasmita 089632004899. Atau bisa mendaftar ke kantor gereja dan bisa juga mendaftar ke komisi pasutri setelah kebaktian minggu.

SEKSI FOTOGRAFI

Seksi Fotografi membuka kelas Kursus Adobe Photoshop Level 1 setiap hari Senin dan Rabu selama 8X pertemuan. Kelas ini hanya dibuka untuk 5 (lima) orang. Adapun pengganti biaya cetak handout sebesar Rp. 50.000,- Pertemuan perdana akan diadakan:
Hari, tanggal    :    Senin, 8 September 2014
Waktu     :    18.00 WIB
Tempat     :    Ruang PPA, Gedung Timur, Lantai 2
Bagi jemaat yang ingin mengikuti kelas ini, dimohon segera mendaftarkan diri kepada Sdri. Louis N. Wijaya (Kantor Gereja) pada jam kerja.

PERSEKUTUAN DOA PEMBANGUNAN SPIRITUALITAS JEMAAT

Hari, tanggal    :    Kamis, 4 September 2014
P u k u l    :    18.00 WIB
T e m p a t    :    Gedung Timur, Lantai 3 Ruang Musa
Pembawa Renungan    :    Bp. Handoko Setiawan
T e m a    :    Menjadi Gereja yang Tetap Taat Menghadapi Sekularisme

Persekutuan Doa Karyawan

Hari, tanggal    :    Selasa, 26 Agustus 2014
Waktu     :    08.00 WIB
Tempat     :    GKI Sangkrah Solo
Dipimpin oleh     :    Pdt. Lukman Halim