Ringkasan Khotbah Minggu, 27 Juli 2014

RINGKASAN KOTBAH IBADAH MINGGU 27 JULI 2014

ATAS NAMA KASIH

BACAAN: KEJADIAN 29: 15-28; MAZMUR 105: 1-11, 45B; ROMA 8: 26-39; MATIUS 13: 31-33, 44-52

PEMBICARA: PDT. MUNGKI A. SASMITA

 

Kisah Yakub dalam Kejadian 29:15-28 hendak menggambarkan penyertaan Allah dalam kesulitan Yakub.

Dalam Roma 8:26-39, Rasul Paulus juga menyatakan bahwa setiap orang mengalami penderitaan, namun di atas semuanya itu, ada penyertaan Allah (Roma 8:32).

Matius 13:31-33, 44-52 menyatakan bahwa kasih dan penyertaan Allah itu nyata dalam kehidupan sehari-hari dan di sanalah Kerajaan Allah dinyatakan.

 

Dari kesemuanya itu, ada dua hal penting yang bisa diambil:

  1. Bekerja dalam pengharapan kepada Tuhan, artinya:

-          Bekerja dengan tidak mudah menyerah.

-          Bekerja dengan menjunjung tinggi etika dan moral.

-          Bekerja dalam pengharapan kepada Allah.

  1. Kehidupan kita, pekerjaan kita tidak bergantung pada keberuntungan tetapi dalam pemeliharaan dan penyertaan Allah.

 

 

 

(Ringkasan kotbah ini tidak dikoreksi kembali oleh pembicara yang bersangkutan).

Bahan PA 28 Juli-2 Agustus 2014
MUSA, PEMIMPIN YANG MENGAMATI DAN BERSEDIA MENYIMPANG

Bacaan          :               Keluaran 3: 1 – 5

Tujuan         :                Peserta dapat belajar dari kepemimpinan Musa, bahwa seorang pemimpin patut lebih dari orang lain dalam kemampuan pengamatan, dan kesediaan menempatkan kehendak dan misi Allah sebagai prioritas hidupnya.

Pengantar

Rutinitas dan rasa nyaman seringkali menjadi hambatan bagi seseorang untuk melihat potensi besar yang telah Tuhan berikan baginya untuk menjadi seorang yang berdampak. Demikian pula, penolakan dan luka-luka masa lalu tidak jarang menjadi penghalang besar bagi seseorang untuk menemukan panggilan hidupnya yang sejati.

Kisah Musa yang akan kita telusuri dalam bahan pemahaman Alkitab ini mungkin mewakili kebanyakan orang pada masa kini. Bagaimana Musa menemukan “kemenangannya” bersama Tuhan, diharapkan menjadi inspirasi bagi kita. Demikian pula, bagaimana Tuhan tidak tinggal diam dan selalu menanti kita untuk melibatkan kita dalam misi-Nya di dunia ini, itulah yang harus kita temukan.

Penjelasan

Pada dasarnya, cerita ini  memiliki empat babak. Marilah kita melihat babak pertama, kedua dan keempat. Babak ketiga tidak dibahas mendalam, karena dapat merupakan suatu bahan PA tersendiri.

Ayat 1- Pertama-tama kita lihat bagaimana dalam babak pertama ini Musa sedang menjalani tugasnya sebagai seorang gembala. Ayat ini menuliskan, “Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro”. Aneh, bukan? Apa arti kata “biasa”? Biasa itu artinya sesuatu yang sudah rutin, sudah kita pahami dan kuasai, sehingga tidak ada hal yang aneh di sana. Kalau Musa biasa menggembalakan kambing domba Yitro, artinya berurusan dengan kambing atau domba dan ternak lainnya, bukanlah hal yang aneh bagi Musa. Sejak kapan dia terbiasa melakukan hal itu? Bukankah Musa itu adalah seorang yang dibesarkan di istana? Bukankah dia orang Yahudi yang diambil anak oleh putri Firaun? Sejak kapan seorang calon pangeran yang nantinya berkuasa, jadi terbiasa mengurusi kambing domba?

Di sini kita ingat bagaimana kisah Musa setelah dibesarkan di istana dan terlempar dari sana. Pada suatu hari dia melihat anak bangsanya, seorang Yahudi, dipukuli karena mereka adalah budak itu di sana. Musa tak tahan melihat kekejian tersebut. Ia melawan orang yang memukuli sampai orang itu mati. Kemudian Musa tahu bahwa ia akan ditangkap, sehingga ia melarikan diri. Setelah melarikan diri dan menjauh dari tempat asalnya, menjauh dari keluarganya dan menjauh dari istana, hiduplah Musa sebagai seorang gembala. Jadi, hidupnya sekarang tidak lagi sebagai pangeran atau seseorang yang bermimpi mengenai masa depan bangsanya. Sekarang Musa hidup hanya untuk mendapatkan nafkah, untuk melanjutkan kehidupannya.

Jadi, kata “biasa” berbicara tentang seorang yang sedang menjalani hidup seperti kebanyakan orang lain, yaitu sekedar cari makan, punya keluarga dan terus-menerus melanjutkan perjalanannya, tanpa impian dan tanpa memiliki pilihan yang beragam. Menurut Alkitab, Musa berada  di istana selama empat puluh tahun, dan kemudian menjadi gembala selama empat puluh tahun juga.

Ayat 2 – “Lalu malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat dan tampaklah semak duri itu menyala tetapi tidak dimakan api.” Ayat ini juga sangat menarik. Kita harus menyadari kebiasaan orang Yahudi, yaitu kalau menuliskan sesuatu atau memberikan tekanan tertentu seringkali mereka menulis dengan  samar, sehingga  kalau kita tidak jeli membacanya, kita tidak akan mendapatkan maknanya. Dalam ayat 2 ini ada kata “lalu.” Kata ini menunjukkan bahwa walaupun Musa menjalani kehidupan secara rutin atau begitu-begitu saja, Tuhan tidak membiarkannya atau mengabaikan hal itu terjadi.  Tuhan mengintervensi hidupnya. Tuhan tidak menghendaki agar Musa hanya hidup rutin dan menjalani kehidupan yang hanya sekedar mencari nafkah. Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan menampakkan dirinya dalam nyala api yang keluar dari semak duri.  Perlu dicatat bahwa di padang pasir atau padang belantara, kejadian semak duri terbakar bukanlah hal yang luar biasa, sama dengan apa yang dapat kita temukan di padang pasir Bromo atau Sumba. Tetapi, yang paling menarik adalah bila semak itu menyala, terbakar, tetapi tidak juga hangus dan menjadi abu, alias tidak dimakan api. Inilah yang tidak biasa.

Selanjutnya, di Alkitab ini dikatakan, “Lalu ia melihat….” Jadi, Musa melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala. Jadi, di tengah kesibukan Musa dengan urusan rutin mengurusi kambing dan domba, ia tidak membiarkan hal yang luar biasa yang sedang terjadi itu berlalu sia-sia. Musa mengamati. Agaknya, mata Musa ini tajam.  Ia mengamati, dan hasil pengamatan tersebut dipikirkannya dengan serius. Ia tidak hanya sekedar mengamati lalu melupakan begitu saja. Di sinilah Alkitab memberi isyarat bahwa salah satu kelebihan seorang pemimpin yang baik terletak pada kemampuan  untuk menghasilkan pengamatan yang tajam.  Seringkali Tuhan menginginkan kita mengamati hal-hal yang dianggap biasa di tengah rutinitas, karena bisa jadi di situ Tuhan sedang memberikan tanda bahwa Dia sedang hadir secara khusus.

Ayat 3 – Dari pengamatan tersebut, Musa memberikan respon.  Ia berkata dalam hatinya,  “Baiklah aku menyimpang ke sana.” Apa artinya menyimpang? Menyimpang berarti menukar prioritas. Apa yang dianggap paling penting sekarang jadi nomor dua atau tiga, karena ada hal yang lebih penting. Misalnya, prioritas Anda pergi menonton, tetapi di tengah jalan Anda berjumpa seorang teman lama yang sudah dua puluh tahun Anda cari. Maka Anda menghentikan perjalanan ke bioskop, dan menggantikannya dengan  mengobrol dengannya. Inilah yang dimaksud dengan menyimpang atau menukar prioritas.

Musa memutuskan untuk menyimpang setelah melihat semak duri yang bernyala.  Artinya, walaupun kambing domba penting, masih ada hal yang lebih penting bagi Musa.

Ayat 4 – Dalam ayat ke 4 termuat kata “ketika” dalam ayat yang berbunyi, “Ketika dilihat Tuhan bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri kepadanya: “Musa, Musa”, dan ia menjawab, “ya Allah.” Mengapa ayat 4 itu mengatakan “ketika?”  Mengapa tidak dikatakan bahwa Musa menyimpang dan Allah berseru?  Hanya satu yang kita simpulkan, ketika Musa sedang sibuk menggembalakan kambing domba dan berada dalam rutinitasnya, Tuhan sudah ada di sana. Bahkan, Tuhan sudah lama menunggu, namun Tuhan tidak berbicara sampai Musa memutuskan menyimpang, atau sampai Musa menukar prioritasnya.

Beberapa ayat tersebut di atas merupakan gambaran mengenai babak pertama dalam kisah perjumpaan Musa dengan Tuhan. Kesimpulan penting dalam babak ini ialah, hanya ketika Musa memutuskan untuk menyimpang, di mana ia meninggalkan sementara apa yang dianggap penting dan bernilai, serta bersedia memeriksa kemungkinan kehadiran Tuhan,  barulah Tuhan berbicara. Jika Musa sibuk terus mengurusi kambing domba mertuanya, mungkin sampai sekarang Tuhan masih menunggu terus Musa di sana, dan Musa sampai tua masih repot dengan kambing  dan dombanya.

Ayat 5 - Babak yang kedua berbicara tentang hal yang lebih dalam. Lalu Allah berfirman, “Jangan dekat-dekat, tanggalkan kasutmu dari kakimu. Sebab tempat di mana engkau berdiri ini adalah tanah yang kudus. ” Kudus artinya terpisah atau berbeda dari yang biasa. Lalu Musa mendengar lagi kata Tuhan, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” (ayat 6) Allah memperkenalkan diri di sini, bahwa Dia bukan Allah yang asing, bukan yang aneh dan bukan yang sama sekali tidak mengenal Musa. Allah seolah-olah mengatakan kepada Musa, “Aku bukan hanya mengenal kamu, tetapi juga ayah dan kakekmu.”

Ayat 6 – Bagaimana kemudian respon Musa dapat kita lihat pada ayat 6. Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Zaman dulu orang cenderung takut memandang Allah, mungkin karena ia merasa dirinya kotor, atau tidak layak. Umumnya, mereka menggambarkan Tuhan sebagai hakim, penuntut, sosok mahakuasa dan menghukum. Tetapi, yang paling menarik di sini adalah ayat 7, Tuhan melanjutkan kata-kata-Nya, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir dan Aku telah mendengar seruan mereka, yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka.” Kita tahu bahwa orang Yahudi itu pindah ke Mesir, karena mereka mengalami masa kelaparan di tanah mereka. Di Mesir ternyata mereka beranak cucu dan jumlahnya bertambah terus sehingga orang pribumi setempat kuatir. Maka dibuatlah peraturan di mana mereka harus bekerja jadi budak.  Di Mesir  mereka mendapatkan cukup makanan, tempat tinggal dan stabilitas, namun tidak memiliki kebebasan, dan diperbudak. Tetapi, sekarang Allah memperkenalkan diri sebagai Allah yang peduli: “Aku tahu kesusahan umat-Ku dan Aku mau melepaskan mereka. Aku mengenal ayah dan kakekmu, Aku tidak membiarkan orang-orang pilihan-Ku menanggung derita sendiri.”

Allah menyatakan diri sebagai Allah yang memperhatikan kesusahan anak-anak-Nya; Allah yang tidak membiarkan kita sendiri dibelenggu, walaupun kadang-kadang ada saatnya kita menanggung kesusahan untuk waktu yang panjang, agar kita lebih tangguh.

Ayat 10 – Dengan penegasan, Tuhan berkata kepada Musa, “Jadi sekarang….”,  seakan-akan Tuhan hendak mengatakan “Aku peduli pada umat-Ku, Aku tidak mau mereka susah, sudah waktunya mereka dibebaskan.” Kata-kata, “jadi sekarang” menunjukkan bahwa konsekuensi dari kepedulian Allah adalah “Aku mengutus engkau pada firaun, pergilah.”  Di sini digunakan kata “pergilah.”   Mengapa digunakan kata ini? Kata “pergilah” ini berarti perintah untuk meninggalkan tempat atau keadaan di mana kita berada, lalu maju selangkah-demi selangkah untuk suatu tugas yang baru. Jadi, seakan-akan Tuhan berkata “Aku mau membebaskan Israel, kamu Kuutus, tetapi kau patut tinggalkan apa yang berharga bagimu, yaitu rutinitasmu dan kambing domba milik Yitro yang sudah empat puluh tahun kamu kerjakan.” Perintah yang berat, bukan? Ada risiko besar.  Kambing domba yang diurus Musa bukanlah milik orang lain, tetapi milik mertuanya. Kalau hilang satu, bukankah baik mertua maupun istri bisa ikut murka?  Tetapi, Tuhan minta kepada Musa agar ia rela memikul situasi yang punya resiko besar bagi keluarganya tersebut.  Tuhan berkata, “Aku punya rencana bagi Israel dan kamu punya peran di sini.”  Artinya, “engkau akan kujadikan pemimpin dan masuk ke dalam rencana-Ku.” Namun, ada harga yang harus engkau bayar. Jadi, Tuhan sekarang mengutus Musa. Seorang pangeran yang empat puluh tahun hidup di kalangan bangsawan,  kemudian menjadi gembala selama empat puluh tahun berikutnya, sekarang Tuhan mengangkat menjadi pemimpin bangsanya.

Bagaimana sekarang sikap Musa ketika Tuhan mengutusnya? Tidak mudah. Musa meragukan dirinya. Ia menunjukkan mental seorang pecundang yang kalah total di masa lalu dan tidak lagi berani berjuang. Tuhan meyakinkan Musa dengan memberikan dua mujizat kepadanya.

4:20 – Karena Musa mengamati, menyimpang dan mengalami dipanggil Allah, semua menjadi pergumulan yang berat, karena mula-mula ia memiliki gambaran negatif tentang dirinya. Namun, dari perjumpaan dan percakapan dengan Yahwe, akhirnya, dipaparkan dalam Keluaran 4:20, “Musa mengajak istri dan anak-anaknya, laki-laki, lalu menaikkan mereka ke atas keledai dan ia kembali ke tanah Mesir.” Ini sesuai dengan kehendak Tuhan. Musa harus meninggalkan kenyamanannya dan kembali ke tugas yang dimulai di masa lalunya,  yang belum selesai di Mesir.  Namun, ada potongan kalimat yang menarik pada ayat ini “.. dan tongkat Allah itu dipegang di tangannya.” Adakah yang aneh?  Sepanjang pasal satu, dua dan tiga tidak ada sepotong pun kata yang menyebut adanya tongkat Allah. Kalau pasal tiga dan empat membicarakan tongkat, semuanya adalah tongkat gembala yang berarti alat pencari nafkah, pelanjut hidup, piranti kerja dan pengaman bagi Musa. Tetapi, mendadak sekarang dikatakan ketika Musa bersiap kembali ke Mesir untuk memenuhi apa yang Tuhan inginkan, di tangannya ada tongkat Allah. Apa artinya? Tongkat Allah itu tongkat gembala yang sudah Musa buang dan diserahkan kepada Tuhan. Tongkat Allah itu tongkat yang sudah dilempar ke tanah, dijadikan ular dan dikembalikan menjadi tongkat yang biasa lagi. Kesimpulan, saat Musa berjumpa dengan Tuhan ia membawa tongkat gembala, dan kini Musa yang berjalan ke Mesir dengan tongkat yang sama, tetapi sudah bermakna berbeda bagi Musa, karena tongkat itu telah menjadi tongkat Allah. Musa, yang semula orang biasa yang hanya mencari  nafkah, kini telah menjadi seorang  yang berangkat dengan kuasa dan otoritas Tuhan, atau dengan legalisasi atau pengesahan dari Tuhan.  Apa yang sebelumnya adalah sesuatu yang biasa, sekarang di tangannya menjadi hal yang tidak biasa, karena intervensi Tuhan dalam hidupnya.

Jadi, sekarang Musa tidak lagi menjadi seorang yang menjalani hidup demi nafkah, tetapi hidupnya kini terarah pada suatu misi. Tadinya ia hanya mencari makan dengan memelihara kambing dombanya, kini ia berangkat karena satu hal, yaitu ada Tuhan yang menyuruhnya dan akan menyertainya.  Seolah-olah lewat tongkat komando pasukan itu, Tuhan menegaskan bukti nyata bahwa Ia akan terus bersama Musa.

 

Lentera Umat 18, Minggu V Juli 2014

KOMISI PEMUDA

Persekutuan KOMPAGS pada hari Sabtu, 2 Agustus 2014 DILIBURKAN

KOMISI REMAJA

“KEBERSAMAAN ORANG TUA DAN REMAJA DALAM TUHAN”
Minggu, 3 Agustus 2014, Pukul 09.00 WIB

Gedung Timur Lantai 3 Ruang Musa
Dipimpin oleh Pdt. Mungki A. Sasmita

HUT MADYA MARANATHA GKI SANGKRAH

HUT Madya Maranatha akan diadakan pada :
Hari, tanggal          :   Minggu, 10 Agustus 2014
P u k u l                   :   09.00 WIB
T e m p a t               :   GKI Sangkrah (Gedung Lama)
Pembawa renungan    :     Ibu Sri Wening
Tema                       :   “Ketika Aku Bersyukur, Tangan-Mu Berkarya”