Bahan PA 21-26 Juli 2014
RUT, PEMIMPIN YANG MEMILIKI KOMITMEN DAN KEPEDULIAN

Bacaan    :               Kitab Rut

Tujuan    :              

Peserta dapat meneladani kepemimpinan Rut yang istimewa dalam menjaga komitmen dan kesetiaannya.

Pengantar

Menurut Alkitab, Rut hidup di antara abad 12 dan 11 sebelum Kristus. Naomi, seorang Yahudi, dan suaminya Elimelekh, yang cukup kaya, berpindah menjadi imigran di Moab, sebuah negeri tetangga, karena pada waktu itu negeri mereka mengalami bencana kelaparan. Sebenarnya, orang Israel menganggap orang Moab sebagai penyembah berhala, dan bermusuhan dengan mereka.  Di negeri yang baru tersebut, kedua putra Naomi berumah tangga dengan mengambil istri dari kalangan orang Moab.  Menurut tradisi Yahudi, Orpa dan Rut, menantu Naomi tersebut, adalah putri dari Raja Moab yang bernama Eglon.  Tuhan tidak mengijinkan kedua putra Naomi memiliki keturunan.

Lebih kurang setelah berumah tangga selama sepuluh tahun, menurut tradisi Yahudi berturut-turut bencana menyentuh kehidupan Naomi dan anak-anaknya. Unta dan keledai serta ternak mereka yang lain mati. Kemudian, kedua putra Naomi meninggal menyusul ayah mereka yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Maka, Naomi menjadi seorang wanita tua yang menderita dan miskin.

Suatu hari, ketika ia sedang bekerja di ladangnya, ia mendengar kabar bahwa di negeri asalnya bencana kelaparan sudah berlalu. Segera, Naomi memutuskan untuk kembali ke tanah asalnya. Kedua menantunya mengantar perjalanannya.

Beberapa saat kemudian, ia berkata kepada menantunya, Rut dan Orpah. Ia memeluk mereka dan berkata, “Kalian sudah menemani aku sejauh ini. Bagaimana saya tidak berterima kasih. Sesudah kedua putraku meninggal, kalian sebenarnya dapat menikah kembali dengan pria lain, namun kalian tetap menemaniku dan memberi makan serta mendukungku.  Kira-Nya Yahwe peduli pada kalian untuk kesetiaan kalian padaku.  Kiranya berkat Tuhan akan turun padamu, dan carilah suami lain.” Jelas kedua menantu tersebut adalah menantu yang baik dan setia.

Mereka bertangis-tangisan, karena mereka tahu, bahwa setelah perpisahan ini, mereka tidak akan saling bertemu lagi.  Salah satu menantunya, Rut mengatakan bahwa ia akan tetap pergi menemani Naomi. “Ikut pergi dengan saya?” Tanya Naomi, “Aku sudah tua dan rahimku tidak akan lagi menghasilkan putra yang baru. Pulanglah… “

Sekali lagi mereka menangis. Kemudian, Orpa mencium ibu mertuanya dan berangkat pulang menuju Moab.  Namun, Rut tidak beranjak. Naomi menasihatkannya sekali lagi, “Lihatlah kakakmu, pulanglah.”

Rut tetap tidak pergi dan terus menangis, Naomi berkata kembali “Setelah umat Israel mengembara 40 tahun di padang pasir dan melewati Laut Merah, kami lapar dan haus. Namun, ketika kami meminta roti dan makanan, orang-orang Moab menolak membantu kami. Sejak itu mereka tidak akan memberikan tempat di masyarakat Israel bagi orang Moab.  Kalaupun engkau diijinkan berada bersama saya, tidak akan ada pria yang akan nenikah denganmu. Bagaimana kamu akan menghidupi dirimu? Aku tidak ingin kamu menjalani hidup seperti aku yang miskin, menderita dan menjadi janda yang mengalami kepahitan. ”

Jawaban Rut menjadi jawaban yang diingat beratus-ratus tahun oleh penganut agama Yahudi, “Ke mana kau pergi, ke sana aku pergi. Ke mana engkau tinggal, ke sana aku tinggal. Bangsamulah menjadi bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (1:16). Pernyataan ini adalah deklarasi komitmen Rut pada keluarga suaminya, pada bangsa asalnya dan keyakinan iman mereka. Dengan komitmen ini, Rut menjembatani perbedaan darah, iman dan masa depan. Rut tidak memberikan komitmen pada orang yang sedang berhasil dan memiliki masa depan yang cemerlang, tetapi sebaliknya.

Naomi dan Ruth kembali ke Bethlehem. Naomi benar. Hidup yang berat menanti keduanya. Untuk mencari nafkah, Rut menjadi pengumpul gandum-gandum yang tersisa di ladang seorang yang bernama Boaz, yang dari satu kaum dengan Elimelekh.

Ketika Boas mengunjungi ladangnya, ia memperhatikan adanya seorang wanita yang bekerja di sana. Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: “Dari manakah perempuan ini?” (Rut 2:5). Pengawas penyabit-penyabit itu menjawab: “Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti.” (Rut 2:6)  Jadi, dua hal yang terbaca oleh pengawas tersebut. Pertama, Rut datang dan meminta ijin untuk memungut jelai. Kedua, Rut bekerja dengan sungguh-sungguh dari pagi tanpa henti.

Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: “Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu.” (2:8-9)

Apa yang dilakukan oleh Rut dalam bekerja dihargai oleh Boas, dan ia memesankan agar Rut mendapatkan perlakuan khusus.  Agaknya, risiko yang ditanggung oleh Rut sebagai janda dan orang asing pada waktu itu cukup besar, sehingga Boas mengambil keputusan untuk melindunginya dan mempermudah kehidupannya. Hasil kesetiaan Rut kepada Naomi, kerja keras dan kesungguhannya serta keberaniannya sebagai orang asing memberikan dampak yang baik.

Bagaimana respon Rut atas pemeliharaan Tuhan padanya, yang sebetulnya tidak diharapkannya tersebut?

Dalam ayat 10 dituliskan, “Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: “Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?”

Boas menjawab: “Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.” (ayat 11).

Percakapan tersebut menunjukkan dua hal. Pertama, Rut adalah seorang yang sangat tahu berterima kasih dan tahu diri.  Kedua, akibat komitmen dan kesetiaan Rut pada Naomi, Boas menunjukkan kebaikan hati melebihi orang biasa pada zamannya, seakan suatu petunjuk bahwa Tuhan tidak membedakan latar belakang etnis orang-orang yang menyembah-Nya.  Sikap hidup dan keputusan serta komitmen Rut menghasilkan dampak.

Sekali lagi berkatalah Rut: “Memang aku mendapat belas kasihan daripadamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan.”  (ayat 13). Rut tidak saja berterima kasih, namun secara rinci menjelaskan dampak tindakan Boas pada perasaannya.

Selanjutnya, Boas masih berbuat kebaikan lainnya. Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepada Rut: “Datanglah kemari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini.” Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya (ayat 14).

Kebaikan dan pemeliharaan Tuhan melalui Boas pada Rut belum berakhir. Setelah selesai makan dan Rut kembali bekerja, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: “Dari antara berkas-berkas itu pun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (ayat 15,16)

Ketika Rut pulang dan membawa perolehan hasil kerjanya sehari suntuk, Naomi heran. Ia merasa tentu ada pemeliharaan Tuhan yang khusus. Ketika Rut menjelaskan bahwa ia bekerja di ladang milik Boas, maka Naomi menjelaskan, bahwa Boas adalah kerabat suaminya almarhum. Sepanjang musim menuai jelai dan gandum Rut bekerja di ladang Boas.

Suatu hari, Naomi menyampaikan pada Rut kemungkinan untuk ia menikah kembali. Pilihannya adalah pada Boas, yang menurut adat istiadat Yahudi harus menjadi penebus kekayaan Elimelekh, dan melanjutkan nama keluarganya. Berarti Rut, atas nama Naomi, meminta Boas membeli tanah dan menegakkan nama suaminya almarhum, alias menikahinya. Boas terkejut ketika sesuai kebiasaan, Rut mendekatinya sesuai dengan petunjuk Naomi.  Sebagai seorang yang sudah berumur, ketika seorang gadis belia merelakan diri menjadi istrinya, dan ia perlu membeli  tanah kerabatnya yang akan dijual Naomi, ia merasa sangat dihargai. Namun, Boas juga menyadari adat istiadat pada waktu itu memang rumit, karena ada seorang lagi yang memiliki status juga dapat menebus tanah Elimelekh. Pada waktu itu memang, hukum tebusan bertujuan supaya tanah waris tidak jatuh ke tangan orang luar. Orang tersebut bersedia membeli tanah Elimelekh, namun tidak bersedia menikah dengan Rut.  Dengan demikian, Boas dan Rut akhirnya hidup sebagai suami istri dan mereka memiliki seorang anak yang bernama Obed. Obed adalah kakek raja Daud.  Naomi juga menjadi seorang yang berbahagia di masa tuanya, dan mampu mengasuh cucunya.

Wanita-wanita tetangga mereka mengatakan “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyurlah kiranya nama anak itu di Israel. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” (4:13-15)

 

Diambil dari Lentera Umat 18, Minggu IV Juli 2014

LOWONGAN KERJA

GKI Sangkrah Solo membutuhkan 1 (satu) orang staf kantor dengan persyaratan:
1.     Pria / Wanita                            4.    Menguasai Program Microsoft Office & Design
2.    Sehat Rohani dan Jasmani    5.    Diutamakan anggota jemaat GKI Sangkrah
3.    Pendidikan diutamakan S1    6.    Pas Foto 2 ukuran 4 x 6
Lamaran dapat dikirimakan melalui Kantor Gereja dengan up. Majelis Jemaat GKI Sangkrah Solo paling lambat 26 Juli 2014.

HUT MADYA MARANATHA GKI SANGKRAHHUT

HUT Madya Maranatha akan diadakan pada :
Hari, tanggal    :    Minggu, 10 Agustus 2014
P u k u l    :    09.00 WIB
T e m p a t    :    GKI Sangkrah (Gedung Lama)
Pembawa renungan    :    Ibu Sri Wening
Tema    :    “Ketika Aku Bersyukur, Tangan-Mu Berkarya”
Ayo temen-temen madya hadir, rayakan dan terima berkat-Nya.

Persekutuan Doa Karyawan

Persekutuan Doa Karyawan akan diadakan pada :
Hari, tanggal    :    Selasa, 22 Juli 2014
Waktu     :    08.00 WIB
Tempat     :    GKI Sangkrah Solo
Pembawa renungan    :    Bp. Drs. Handoyo
Mohon keikutsertaan seluruh staf karyawan GKI Sangkrah.

KOMISI PEMUDA

Haaii guys kumpul bareng yuuk di Persekutuan KOMPAGS pada hari Sabtu, 26 Juli 2014 di ruang Musa Lantai 3, pukul 18.00 WIB. Kita mau NOBAR “Heaven is for Real”. Ajak teman yang lain yaa… Tuhan memberkati.