Bahan PA tanggal 1-6 September 2014

MERENUNGKAN PERIBADATAN KRISTIANI

BACAAN ALKITAB :  YESAYA 6 : 1-3

TUJUAN                  :

  1. Peserta mampu memahami bahwa ibadah yang benar adalah ibadah yang berpusat pada panggilan dan karya Allah, bukan pada diri sendiri.
  2. Peserta memahami bagaimana penghayatan yang benar di dalam melantunkan nyanyian ibadah

PENGANTAR

Apakah jawab yang akan kita berikan kepada anak, remaja, atau pemuda kita, ketika mereka teriak “ngantuk, bosen”, saat diajak ke gereja? Enggankah mereka beribadah? Ataukah, liturgi kita begitu menjemukan, sehingga para remaja dan pemuda lebih suka ‘jalan-jalan’ ke gereja yang enerjik? Beberapa orang tua menjawab, “yang penting ibadah, gereja mana pun tidak masalah. ” Yang lain berkata, “kalau suka liturgi yang penuh keanggunan, silahkan ke GKI. Kalau suka peribadahan yang penuh dinamika juga tidak apa-apa, silahkan ke gereja yang  ‘rame’, namanya juga gejolak anak muda.” Ada juga yang beralasan, “kalau para remaja sudah lebih dewasa lebih stabil secara psikologis, mereka akan kembali beribadah bersama kita. Kalau sudah bosan keluyuran mereka akan ‘pulang’.” Sebelum memberi jawab kepada anak-anak kita –tentunya dengan bertanggung jawab, bukan pokoké  ibadah GKI ya seperti ini – marilah kita mencoba memahami unsur-unsur liturgi peribadahan, dengan mendasarkan perenungan kita pada kitab Yesaya 6 : 1-3.

PENJELASAN

Pernyataan Kehadiran Allah (Ayat 1)

Dalam Yesaya 6 : 1 dituliskan, “… aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” Dari kalimat ini, dengan segera kita melihat Allah digambarkan sebagai Pribadi yang bertakhta di tempat Mahatinggi: Pribadi yang dalam kemuliaan dan kekudusan menjumpai umat-Nya. Perhatikan bahwa ujung jubah Allah memenuhi bait suci, tempat sentral peribadahan di era PL, yang berpadanan dengan gereja di masa kini. Allah hadir dalam peribadahan umat-Nya. Votum dalam liturgi kita, merupakan pernyataan kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Dan, kita pun dituntut merespon kehadiran Allah: menghadap kehadiran-Nya dengan penuh hormat (adoration)!

Sayang, seringkali kita kehilangan sakralitas makna peribadahan. Mengapa? Karena kita memasuki peribadahan dengan kecenderungan mistis di dalamnya. “Saya tidak merasakan kehadiran Allah.” “Tidak ada lawatan Roh Kudus di tempat ini.” Padahal, pencarian akan sensasi dalam peribadahan menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar ingin menghadap Allah yang sungguh hadir di antara umat-Nya. Kita hanya sibuk mencari ‘getaran-getaran’ personal. Ingat, Tuhan itu bukan makhluk halus yang membuat kita merinding seperti pada acara ‘Dunia Lain’. Sikap kita ketika menghadap Allah dalam peribadahan menunjukkan orientasi ibadah kita: berpusat kepada Allah, atau diri sendiri?

Sejatinya, peribadahan Kristiani harus bersifat teosentris, berpusat kepada Allah, dan bukan berorientasi pada diri. Dan, langkah awal bagi kita untuk memasuki kebaktian adalah kesadaran akan hadirnya Allah di tengah umat-Nya. Siapakah Allah yang hadir di tengah umat-Nya itu? Para Serafim berseru, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (ayat 3). Allah adalah Tuhan semesta alam, Yang Mahakudus dan Mahamulia! Bahkan, para makhluk surgawi pun menutup muka ketika berhadapan dengan kemuliaan dan kekudusan Allah (ayat 2).

Nyanyian Pujian (Ayat 2-3)

Kesadaran akan kehadiran Allah dalam segala kemuliaan-Nya harus mewujud melalui pujian pengagungan yang dinaikkan ke hadirat-Nya. Allah adalah Pribadi yang layak dipuja dan disembah. Para Serafim memuji dan menyembah-Nya, sahut-menyahut mereka berseru, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Dan, para tua-tua dalam kitab Wahyu pun merespon dengan pujian hormat sembari tersungkur menyembah (4 : 8-11). Kemuliaan yang begitu agung menginspirasi nyanyian Suci, Suci, Suci dalam Kidung Jemaat 2 : Suatu lagu pembuka ibadah yang menganggungkan Allah Tritunggal. Namun, amat disayangkan, seringkali kita menaikkan pujian dengan ‘lemes’ tanpa semangat.  Dan jujur saja, peribadahan tanpa penjiwaan memang menjemukan! Seperti kata pepatah, “hidup segan mati tak mau!” apakah artinya pujian tanpa passion yang menunjukkan syukur atas kesempatan beribadah kepada Allah Tritunggal?

Berkebalikan dengan ‘kebekuan’ kita, gerakan Kharismatik mengumbar segala emosi personal. Kemudian, muncullah klaim bahwa dinamika yang demikian merupakan wujud pengurapan Roh Kudus. Anak muda, bahkan kaum dewasa terlena tanpa kritis bertanya, “benarkah?” Afeksi berbeda dengan emosi. Emosi hanya berkaitan dengan aspek perasaan. Sementara, afeksi  memadukan emosi dengan aspek kognisi, sehingga melahirkan penghayatan yang mendalam. Nyanyian tanpa penjiwaan adalah pujian yang datar dan mati. Sedangkan praise and woeship yang sekedar melampiaskan perasaan, akan kehilangan penghayatan obyektif. Ibadah yang afekfif menuntun kepada pengagungan akan kemuliaan Allah. Sementara, ibadah yang emotif berujung pada katarsis-psikologis, pelepasan beban jiwa dan histeria.

Diambil dari Lentera Umat Minggu Pertama September 2014

PERSEKUTUAN DOA PEMBANGUNAN SPIRITUALITAS JEMAAT

Hari, tanggal          :  Kamis, 4 September 2014
P u k u l                   :  18.00 WIB
T e m p a t               :  Gedung Timur, Lantai 3 Ruang Musa
Pembawa Renungan :   Bp. Handoko Setiawan
T e m a                    :  Menjadi Gereja yang Tetap Taat Menghadapi Sekularisme

KOMISI PEMUDA

“STOP KOMPLAIN !!”
Sabtu, 6 September 2014

Pukul 18.00 WIB
Ruang Musa, Gedung Timur Lantai 3
Dipimpin oleh Ibu Dwi Setyo Rini

KOMISI REMAJA

“BERTUMBUH DALAM PERSEKUTUAN”
Minggu, 7 September 2014

Pukul 09.00 WIB
Ruang Musa, Gedung Timur Lantai 3
Dipimpin oleh Pdt. Claudias Lisias Sutrisno

BIDANG PEMBINAAN KATEGORI USIA
PERSIAPAN CERITA GSM

Hari, tanggal  :  Rabu, 3 September 2014
Pukul             :  18.00 – 19.15 WIB
Tempat          :  Ruang Paulus, Gedung Timur Lantai 2
Pembicara     :  Pdt. Mungki A. Sasmita
B a h a n       :  Kejadian 25 : 19 – 34
T e m a          :  Aku Mengasihi Saudaraku
M.C.              :  Ibu Ari W.